Hubungi Kami : 0852-5777-3333ponpesalanwarmadura@gmail.com

Sekilas Muatan Historis; Khutbah Hadsratussyekh KH. Hasyim Asy’ari Berbahasa Sunda Pegon Jaman Jepang


Madura, alanwarmadura.net – Khotbah merupakan salah satu cara seseorang untuk menyampaikan pesan. Dalam buku Daa’atul Maa’arif dinyatakan bahwa khutbah adalah ucapan atau perkataan yang disampaikan dalam ceramah. Berbeda dengan Khithabah, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya, Ma’al-llah, “Khithabah dalam Islam merupakan cermin kehidupan yang di dalamnya kehidupan bergerak dan menjadikan agama ini merayap dari satu hati ke hati yang lain, melompat dari satu pikiran ke pikiran yang lain, berpindah bersasma perjalanan waktu dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan bergerak pula dari satu daerah ke daerah lain.

KH. Hasyim Asy’ari merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama organisasi Islam yang terbesar di Indonesia. Selain itu beliau juga panutan bagi Masyarakat Islam di Indonesia dalam konsepsi ajaran-ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Beliau juga kerap kali memberikan khutbah dan pencerahan di tempat satu ke tempat yang lainnya di daerah-daerah Indonesia. Seperti halnya KH. Hasyim Asy’ari dalam Khutbahnya yang termaktub versi terjemahan Bahasa Sunda Aksara Arab (Sunda Pegon) yang termuat dalam majalah al-Syu’lah edisi 1 Rajab 1363 Hijriah (bertepatan dengan 1 Juli tahun Jepang 2604 atau tahun Masehi 1944), nomor 5 tahun 1.

Majalah al-Syu’lah merupakan majalah berbahasa Sunda Pegon yang terbit pada zaman pendudukan Jepang yang penerbitannya dikeluarkan oleh “Gunseikanbu Shumubu” (Departemen Agama Pemerintahan Balatentara Jepang). Di halaman terakhir majalah, terdapat keterangan pencetaknya adalah Gun-Kanetsu-Han yang beralamat di Pemandangan, Jakarta.

Khutbah KH Hasyim Asy’ari dalam bahasa Sunda Pegon ini termuat secara lengkap dalam 3 lembar halaman (hal. 16-18). Tertulis dalam pembukaan khutbah

: بيانتارانا سسفوه اݢوڠ مشيومي كيائي الحج هاشم أشعري دينا فاتمؤن علما دي ساكولياه/ جاوا تڠاه تڠݢل) 25 جوني 2604 دي سؤلؤ )

“Biantarana sesepuh agung Masyumi/Kiyai Haji Hasyim Asy’ari dina patemon ulama di sakawilayah/ Jawa Tengah tanggal 25 Juni 2604 di Solo.” Dalam terjemahan Bahasa Indonesianya sebagai berikut, “Khutbah sesepuh besar Masyumi Kiyai Haji Hasyim Asy’ari dalam pertemuan ulama seluruh wilayah Jawa Tengah tanggal 25 Juni 2604 di Solo”.

Setelah membuka dengan basmalah, hamdalah dan shalawat dalam bahasa Arab, Hadratussyekh kemudian mengatakan dalam bahasa Sunda:

 كلايان أسمانا الله انو ميكا اسيه سرتا ميكاڽاءه. سݢال فوجي ايت كاݢوڠان الله ݢوستي نو موربيڠ عالم. رحمة جڠ كابݢجاءن

كاجوڠ جوڠان اورڠ نبي اݢوڠ محمد صلى الله عليه وسلم جڠ كاساكابيه كولاورݢانا سرتا كا فارا صحابة نا

“Kalayan asmana Allah anu mikaasih sarta mikanyaah. Sagala puji eta kagungan Allah Gusti nu murbeng alam. Rahmat jeung kabagjaan ka jungjungan urang Nabi agung Muhammad SAW jeung sakabeh kulawargana sarta ka para sahabatna.” Dalam terjemahan Bahasa Indonesianya sebagai berikut, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Segala puji milik Allah yang menguasai alam raya. Rahmat dan kebahagiaan tercurah untuk jungjungan kita Nabi agung Muhammad SAW beserta semua keluarga dan para sahabatnya.”

Isi khutbah selanjutnya merupakan uangkapan bentuk rasa syukur dan ucapan terima kasih seperti Hadratussyekh yang mengatakan dalam bahasa Sunda berikut:

 سيم كوريڠ ڽڠݢاكن كافارا جوراݢان سادايا شوكور سرتا اوچافان ويلوجڠ سومفيڠ تينا كاساتياءن فارا جوراݢان نو فارنتوس

سامي كرسا ڠابولكن أونداڠان فيكن ڠاهاضيران ايئي فاتمون

“Sim kuring nyanggakeun ka para juragan sadaya syukur sarta ucapan wilujeng sumping tina kasatiaan para juragan nu parantos sami kersa ngabulkeun ondangan pikeun ngahadiran ieu patemon.” Dalam terjemahan Bahasa Indonesianya sebagai berikut,, “Saya menghaturkan kepada para tuan semua rasa syukur (terima kasih) dan ucapan selamat datang atas kesetiaan para tuan yang sudah berkenan memenuhi undangan guna menghadiri pertemuan ini.”

Dari sisi lain juga dijumpai di majalah al-Syu’lah edisi nomor 5 tahun 1 di rumah Ajengan Ahmad Muhibbuddin, keluarga pengasuh pesantren Nurul Fata, Cikondang, Sukabumi.  

Teks khutbah berbahasa Sunda di atas sejatinya adalah terjemahan dari teks asli yang ditulis dalam bahasa Arab dan disampaikan dalam rapat pertemuan para ulama Jawa Tengah yang diadakan di kota Solo pada 25 Juni 1944. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyampaikan khutbah tersebut dalam kapasitasnya sebagai pucuk pimpinan tertinggi umat Muslim Indonesia.

Teks asli berbahasa Arab khutbah di atas dimuat dalam majalah Soeara Moeslimin Indonesia edisi Rajab 1363 Hijriah (Juli tahun Jepang 2604 atau 1944 tahun Masehi). Soeara Moeslimin Indonesia adalah majalah berbahasa Melayu-Indonesia beraksara Latin (di dalamnya terdapat sisipan bahasa Jepang dan bahasa Arab) yang diterbitkan oleh Madjelis Sjoero Moeslimin Indonesia (Masjoemi).

Dalam majalah Soeara Moeslimin Indonesia, pidato asli berbahasa Arab Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut termuat secara lengkap dalam dua halaman (hal 2-3). Tertulis penggalan tiga paragraf pertama pidato tersebut:

 بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين. أيها الاخوان العلماء الكرام أرفع الى حضراتكم جميل الشكر وأطيب التهاني على تلبيتكم الدعوة لحضور هذا الاجتماع. وما دفعكم الى الحضور

هنا الا الرغبة الأكيدة للعمل المجدي مع الحكومة العسكرية والارادة القوية لرفع شأن الإسلام والاهتمام بأمر المسلمين كما أمرنا بذلك رسولنا الأعظم محمد صلى الله عليه وسلم (صلعم). اليوم يجتمع هنا (بمدينة صالو) علماء جاوا الوسطى كما اجتمع من قبل

علماء جاوا الشرقية بمدينة سورابيا. ونسأل الله تعالى أن يجعل اجتماعنا هذا اجتماعا مباركا يكون لنا منه خير الدنيا وثواب الآخرة. آمين.

Selain khutbah berbahasa Sunda di atas, dijumpai juga tulisan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari lainnya yang berbahasa Sunda (sebagai terjemahan dari teks aslinya yang berbahasa Melayu). Tulisan tersebut termuat dalam majalah al-Mawaidz (Pangrojong Nahdlatoel Oelama Tasikmalaja)” edisi nomor 4 tahun 1933. Al-Mawaidz adalah sebuah majalah berbahasa Sunda yang diterbitkan oleh Bestuur (Cabang) Nahdlatul Ulama Tasikmalaya sepanjang tahun 1933 hingga 1935.

Kontekstualitasnya, tulisan tersebut bersuber dari Kang Ajengan Iip D. Yahya, penulis dan sejarawan Jawa Barat, yang telah berkirim ke salah satu penulis tentang tulisan KH Hasyim Asy’ari berbahasa Sunda dalam majalah Al-Mawaidz tersebut. Tulisan Hadratusayekh KH Hasyim Asy’ari sebagaimana dimaksud di atas berisi surat tanggapan beliau seputar hukum membangun rumah fakir miskin dari harta zakat. Kasus “rumah miskin” ini sempat mencuat sebagai polemik di Tasikmalaya pada saat itu antara sesama ulama tradisionalis.

Hayyul Mb

Wartawan & Sastrawan Bangkalan

(Tulisan di atas bersumber dari tulisan A. Ginanjar Sya’ban yang terbit di “Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama” dan “NU Online 17 Beranda Islam Indonesia”)

Bagikan

0 comments on “Sekilas Muatan Historis; Khutbah Hadsratussyekh KH. Hasyim Asy’ari Berbahasa Sunda Pegon Jaman Jepang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *