Hubungi Kami : 0852-5777-3333ponpesalanwarmadura@gmail.com

Hagia Sophia dan Ungkapan Erdogan Bebaskan Masjid Al Aqsa


alanwarmadura.net – Kontekstual nama “Hagia Sophia” mempunyai arti tersendiri. Dalam bahasa Turki disebut Ayasofya sedangkan dalam bahasa latin adalah Sancta Sophia. Nama Hagia Sophia artinya adalah kebijaksanaan sesuai peruntukan bangunan tersebut sebagai rumah ibadah.

Pada waktu 360 Masehi, Kaisar Bizantium, Constantius I, memerintahkan pembangunan Hagia Sophia sebagai sebuah gereja untuk umat Kristen Ortodoks Yunani di Konstantinopel yang kini bernama Istanbul. Awalnya gereja ini beratapkan kayu. Sedangkan pada 404, Bangunan Hagia Sophia pertama terbakar akibat kerusuhan yang terjadi di sekitar bangunan tersebut. Kerusuhan diakibatkan konflik politik antar keluarga Kaisar Arkadios yang kemudian menjadi penguasa pada 395-408 AD.


Kurun waktu yang lumayan Panjang, pada 415 M, Struktur kedua Hagia Sophia selesai dibangun Kaisar Theodosis II yang merupakan penerus Arkadio. Bangunan yang baru memiliki lima nave (tempat bangku-bangku umat) dan jalan masuk yang khas dengan atap terbuat dari kayu. Hal tersebut belumlah selesai, karena ada penghancuran kembali setelah kebakaran kembali terjadi, hingga kemudian pembangunan ketiga Hagia Sophia selesai dalam lima tahun dan ibadah pertama dilakukan pada 27 Desember 537. Saat itu Kaisar Justinian disebut mengatakan, “Tuhanku, terima kasih atas kesempatan membangun sebuah tempat ibadah.” Hagia Sophia melanjutkan perannya yang sangat penting dalam politik dan sejarah Bizantium, termasuk menjadi saksi Perang Salib. Wilayah Konstantinopel termasuk Hagia Sophia sempat berada di bawah kekuasaan Romawi untuk waktu singkat. Kekaisaran Bizantium dikisahkan berhasil menguasai kembali kota tersebut dan Hagia Sophia yang kembali rusak.


Perubahan besar Hagia Sophia selanjutnya terjadi sekitar 200 tahun kemudian saat Dinasti Ottoman menguasai Kontantinopel. Di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al Fatih (Mehmed II), dinasti ini berhasil menaklukkan wilayah tersebut dan mengganti namanya menjadi Istanbul pada 1453. Dengan pengaruh Islam, Hagia Sophia diubah menjadi masjid dengan menutup ornamen bangunan yang bertema Orthodox. Ornamen diganti kaligrafi yang didesain Kazasker Mustafa İzzet. Kaligrafi tersebut antara lain tulisan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, empat khalifah pertama, dan dua cucu Rasulullah SAW. Perubahan lain yang dilakukan pada Hagia Sophia sebagai masjid di antaranya; Pembangunan mihrab yang semula tidak ada, Penambahan dua lampu perak di tiap sisi mihrab yang dilakukan Kaisar Ottoman Kanuni Sultan Suleyman, Penambahan dua kubus marmer dari wilayah Bergama, sebuah kota di Turki, yang dilakukan Sultan Murad III, Pembangunan empat menara yang digunakan saat adzan, Struktur Hunkâr Mahfili, sebuah kompartemen yang digunakan penguasa untuk ibadah diganti dengan ruang lain dekat mihrab. Renovasi besar ini dilakukan Sultan Abdülmecid yang menunjuk arsitek Fossati bersaudara asal Swiss.


Dengan wujud yang baru, Hagia Sophia melanjutkan perannya menjadi saksi perkembangan banga Turki dan dunia internasional. Di bawah pengaruh Presiden Kemal Ataturk, Hagia Sophia menjadi museum dan dilaporkan menarik minat sekitar tiga juta wisatawan tiap tahun. Karena sejarah dan keunikan, Hagia Sophia ditetapkan pula sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 1985.


Hagia Sophia kembali jadi masjid setelah sempat berstatus museum dan ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia. Melalui akun Twitternya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menganggapnya sebagai kebangkitan bangunan bersejarah tersebut. Kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid sesuai Majelis Negara Turki membatalkan keputusan kabinet pada 1934. Keputusan ini mengundang reaksi dari masyarakat internasional, dengan sebagian mendukung dan menolak keputusan tersebut. Terlepas dari reaksi netizen, warga internasional, dan sikap tiap negara, Hagia Sophia memang punya sejarah yang sangat panjang. Banyak kecamana dan tanggapan-tanggapan yang negatif dari berbagai kalangan. Namun ungkapan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, “kebangkitan Hagia Sophia” merupakan tanda pembebasan masjid Al-Aqsa.


Masjid Al-Aqsha, atau yang sering disebut dengan Baitul Maqdis, merupakan sebuah kompleks yang berada di Kota Lama Yerusalem. Kompleks ini dibangun pada tahun 957 SM oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Kompleks ini sering dikelirukan dengan Jami’ Al-Aqsha atau Masjid Qibli, yang sebenarnya adalah masjid yang berada di dalam kompleks Masjid Al-Aqsha. Seperti yang telah disebutkan, Masjid Al-Aqsha merupakan salah satu tempat Nabi Muhammad isra’ mi’raj setelah sebelumnya melakukan perjalanan dari Masjid Al-Haram yang ditempuh dengan buraq. Ketika Nabi Muhammad sampai di Baitul Maqdis, ia melaksanakan shalat dua rakaat di Bukit Bait Suci, dan selanjutnya dibawa oleh malaikat Jibril untku naik ke surga. Di surga, Nabi Muhammad bertemu dengan nabi-nabi lainnya dan kemudian menerima perintah dari Allah yang menetapkan kewajiban bagi umat Islam untuk menjalankan shalat lima waktu setiap harinya. Lalu ia dikembalikan ke Mekkah untuk memberi tahu umat Islam.


Umat Islam mengambil alih kepemimpinan Yerusalem dari Romawi Timur pada tahun 637, pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattahab. Baitul Maqdis pada saat itu masih dalam keadaan tidak terawat. Umar menemukan Batu Fondasi yang diyakini sebagai titik pijakan Nabi Muhammad ketika naik ke surga. Lalu ketika masa kekhalifahan Umayyah, mulai didirikan beberapa bangunan di tanah Masjid Al Aqsha. Pada tahun 691, didirikan sebuah bangunan segi delapan berkubah yang menaungi Batu Fondasi oleh Khalifah Abdul Malik. Bangunan itu yang kemudian dikenal dengan Kubah Shakhrah.Pada tahun 1099, setelah kemenangan umat Kristen pada Perang Salib Pertama, kepemimpinan Yerusalem beralih ke tangan umat Kristen. Setelah peristiwa ini, Kerajaan Kristen Yerusalem didirikan. Jami’ Al Aqsha diubah menjadi istana kerajaan dengan nama Templum Solomonis atau Kuil Sulaiman (Salomo) dan Kubah Shakhrah diubah menjadi gereja dengan nama Templum Domini (Kuil atau Bait Tuhan). Namun umat Islam dapat mengambil kembali kepemimpinan Yerusalem pada tahun 1187 setelah kemenangan Salahuddin Al Ayyubi. Semua jejak dan bekas peribadahan Kristen di Masjid Al Aqsha dihilangkan dan kompleks tersebut kembali kepada kegunaan asalnya. Kewenangan umat Islam terhadap Masjid Al Aqsha cenderung tanpa gangguan hingga lepasnya wilayahnya Palestina dari Utsmaniyyah.


Adanya sebuah perseteruan Kembali terjadi setelah Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk penjajah Zionis ‘Israel’ David Friedman dan utusan AS untuk Timur Tengah Jason Greenblatt menghadiri pembukaan terowongan yang terletak di bawah tanah kawasan warga Palestina, Silwan, sebelah selatan Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis Timur terjajah. Turut hadir pula dalam peresmian itu Sarah Netanyahu, Sheldon Adelson, dan sejumlah tokoh ‘Israel’ lainnya.


Otoritas Palestina dan kelompok sayap kiri ‘Israel’ Peace Now mengecam kehadiran diplomat senior AS pada peresmian situs kontroversial itu. Proyek terowongan, yang disebut Jalan Ziarah oleh penjajah Zionis, itu dibangun selama delapan tahun terakhir dengan sponsor dari asosiasi pemukim ilegal Yahudi Elad. Terowongan itu membentang di bawah tanah kawasan mayoritas warga Palestina di Wadi al-Hilweh di Kota Tua. kemudian Peace Now menggambarkan kehadiran para pejabat AS di acara itu sebagai “pengakuan Amerika atas kedaulatan ‘Israel’ di kawasan sensitif, Lembah Suci”.


Sekilas ulasan tentang Hagia Sophia dan Al Aqsa di atas, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersumpah untuk membebaskan Masjid Al Aqsa untuk Umat Islam setelah mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Turki menganulir status museum Hagia Sophia yang telah diberlakukan sejak 1934. Hagia Sophia pernah menjadi masjid pada 1453 sejak penaklukan Konstantinopel. “Kebangkitan Hagia Sophia menandai pembebasan Masjid Al Aqsa,” kata situs web Kepresidenan Turki, dikutip dari Jerusalem Post, 13 Juli 2020. “Kebangkitan Hagia Sophia adalah batu loncatan umat Islam di seluruh dunia yang akan dating. Kebangkitan Hagia Sophia adalah kebangkitan api harapan umat Islam dan semua yang tertindas, disalahkan, tertindas dan dieksploitasi.”
Pidato dalam bahasa Turki diterjemahkan sedikit berbeda ke bahasa Arab dan Inggris, menurut Jerusalem Post. Dalam bahasa Arab pidato mengatakan bahwa mengubah Hagia Sophia menjadi masjid adalah bagian dari “kembalinya kebebasan al Aqsa”. Presiden Turki mengaitkan keputusan untuk menghidupkan kembali Islam dari Bukhara di Uzbekistan ke Andalusia di Spanyol. Terminologi ini, yang menghubungkan al Aqsa di Yerusalem dengan Hagia Sophia dan Spanyol. Dalam terjemahan Turki referensi yang sama ke Spanyol tampaknya tidak dimasukkan seperti dalam bahasa Arab.

Hayyul Mb
Wartawan dan Sastrawan Bangkalan

Bagikan

0 comments on “Hagia Sophia dan Ungkapan Erdogan Bebaskan Masjid Al Aqsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *